Selasa, 23 Oktober 2007

LYONG DIANUGRAHI ORANG KAYA PAYUNG NEGERI




Kandidat Wakil Gubernur Kalbar Drs Ignatius Lyong dianugrahi gelar kehormatan suku Dayak sebagai Orang Kaya Payung Negeri sebagai orang yang bisa melindungi dan membawa negeri ini dan daerah ini kearah yang lebih baik.

Acara tersebut berlangsung di Dusun Marau Sinar Bulan, Kecamatan Tumbang Titih, kabupaten Ketapang, Jum’at (19/10) malam yang disaksikan ratusan kepala keluarga, tokoh masyarakat dan tetua adat Dayak.

Kedatangan Lyong disambut dengan upacara adat Temuai Umbai Makan Nyagak Boris Boras yang artinya penyambutan bagi seorang yang dianggap memeliki keistimewaan dan kepemimpinan briliant.

Penghargaan tersebut juga diberikan kepada ketua Koalisi MAS dan juga Ketua TOSS (Tim Oesman Sapta Sukses) wilayah Kabupaten Ketapang Herman Mimpi dengan gelar Gemala Bhineka Tunggal Ika, artinya orang yang mampu mempersatukan berbagai suka bangsa.

Dalam kesempatan itu masyarakat suku Dayak setempat menyampaikan unek-unek kepada Lyong. Diantaranya keluhan minimnya fasilitas infratsruktur dan akses jalan yang menghubungkan kecamatan mereka yang rusak berat ke ibukota kabupaten. Juga disinggung oleh soal penegakkan supremasi hukum di Ketapang yang masih jauh dari harapan masyarakat. Mereka juga menyampaikan, keluhan masih banyak KKN di lingkungan pejabat Ketapang.

Bahkan dalam kesempatan itu, masyarakat menyampaikan perjuangan merubah status dusun mereka menjadi sebuah desa dengan berbagai persyaratan yang sudah penuhi. Namun, tindak lanjut perjuangan tersebut, mereka nilai belum ada jawaban yang pasti dari pihak Pemda Kabupaten Ketapang.

Menanggapi keluhan masyarakat suku Dayak itu, Lyong mengatakan bahwa dirinya dan Oesman Sapta telah sepakat untuk memperjuangkan semua aspirasi masyarakat Dusun Muara Sinar Bulan dan tentunya masyarakat Kecamatan Tumbang Titih secara keseluruhan.

Lyong juga menyinggung tentang program yang akan mereka gulirkan jika kelak mereka menjadi gubernur dan wakil gubernur Kalbar mendatang. Dua diantaranya mengenai perjuangan pendidikan dan kesehatan gratis.

“Kita tidak akan mampu mencapai pendidikan dan kesehatan gratis jika APBD kita masih pada kisaran Rp 1 trilyun. Kita akan mencapai itu bila APBD kita diatas Rp 5 triliyun setahun dan sosok yang bisa merubah Kalbar hanyalah Oesman Sapta yang mempunyai kemampuan lobi secara nasional maupun internasional,” jelas Lyong. Lebih lannjut Lyong mengatakan “Karena itu, saya bersedia mendampingi beliau maju sebagai wakil gubernur Kalbar.” (mco).

Senin, 22 Oktober 2007

DUKUNGAN OESMAN SAPTA TERUS MENGALIR



Dengan adanya dukungan politik yang terus mengalir terhadap terhadap kandidat gubernur dan wakil gubernur Kalbar pasangan Dr H Oesman Sapta dengan Drs Ignatius Lyong MM, semakin memperkuat posisinya untuk memjadi pemimpin Kalbar mendatang.

Dukungan semakin hari semakin banyak yang disampaikan baik secara pribadi maupun secara kelembagaan. Baik disampaikan secara langsung kepada Oesman Sapta maupun kepada tim suksesnya. Hal ini semakin memperkuat dan meyakinkan posisi pasangan kandidat ini dalam melenggang ke kursi gubernur Kalbar.

Suara sumbang yang selama ini ditiupkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab terhadap pasangan ini, malah berbalik menjadikan kekuatan baru sekaligus dukungan terhadap mereka semakin membesar dan menggunung. Riset yang berbasis politik pun mulai memperlihat grafik menaik untuk pasangan calon ini.

Tak ada satu pun meragukan kemampuan Oesman Sapta untuk membangun Kalbar. Memang, semula orang banyak meragukan, apakah pengusaha sukses ini benar-benar ingin menjadi gubernur, padahal dirinya sudah hidup serba kecukupan. Tetapi belakangan, semua orang paham bahwa sosok Oesman Sapta yang sudah memiliki jaringan nasional dan internasional yang amat kuat itu, mau jadi gubernur Kalbar.

Matanya pun berbinar-binar ketika “Sang Meteor” ini berbicara soal kemiskinan dan kesusahan rakyat Kalbar. “Saya lilla hita’ala, saya ingin membangun Kalbar,” katanya meyakinkan rakyat Kalbar, bahwa dirinya betul-betul ingin membangun Kalbar, bukan untuk bisnis seperti yang sering diperbincang oleh kalangan pebisnis.

Dirinya menjamin, kalangan pengusaha tidak usah takut, bahwa bisnis mereka akan terganggu jika Oesman Sapta menjadi gubernur. Sebab sosok Oesman Sapta kini, akan menegakkan kebenaran dan keadilan di bumi Kalbar ini demi membangun rakyat Kalbar.

Ia sudah mematok dirinya, bahwa ia tidak lagi bisa membiarkan kehidupan rakyat seperti ini. Ia ingin mengajak seluruh elemen Kalbar untuk membangun Kalbar. Dan ia juga sudah membuat frame kerja yang jelas. Ia akan angkat derajat rakyat Kalbar dalam sebuah bingkai pertumbuhan ekonomi yang cepat dan cerdas.

Sebab apa, ia melihat kenyataan hidup rakyat Kalbar seperti sekarang ini, merupakan kesalahan fatal sistem yang digunakan. Makanya ia akan membentuk sistem yang baik dan benar di Kalbar. Dengan sistem ini, ia akan membangun secara arif dan bijak berdasarkan kemauan rakyat Kalbar. Ialah rakyat Kalbar mau terhindar dari kemiskinan dan kesusahan yang mereka rasakan selama ini.

Oesman Sapta digelari juga oleh teman-teman dan lawannya sebagai “Sang Pendobrak” karena dialah satu-satunya putra Kalbar yang berani berhadapan dengan siapa yang harus dilaluinya untuk memperjuangkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang dipimpinnya. Banyak catatan ia yang memang pantas disebut “Sang Pendobrak”. Di tengah kebuntuan kerja di MPR RI dulu, maka dialah yang berani mendobrak kebekuan itu, sehingga sebuah keputusan bisa diambil secara bijak.

Namun, banyak orang terlena dengan sejarah masa lalunya. Namun kini, justru ia menjadi contoh bagi rakyat Kalbar, tentang sebuah perjuangan panjang rantai kehidupan. Ia memberi semangat bagi orang susah, bahwa hidup tidak akan selamanya susah jika ingin berusaha keras. Kini semua orang bisa menerimanya dengan apa adanya. Bahkan kalangan ulama pun sudah berterus terang bahwa mereka sudah menerima Oesman Sapta sebagai pemimpin Kalbar.

Karenanya, ratusan ustadz dan kiyai berkumpul menemuinya di Pontianak untuk menyatakan mencabut dukungan kandidat lainnya, lalu mendukung Oesman Sapta pada pemilihan 15 November nanti.

Begitu juga dengan 700 kepala desa se Kalbar. Walau organisasi ini dilarang berpolitik, tetapi mereka selaku pamong desa juga bertanggung jawab terhadap pembangunan desanya. Mereka mau mencari sosok pemimpin Kalbar yang dapat membangun desa mereka yang selama ini kurang tersentuh pembangunan.

Belum lagi, warga Tionghoa di Pontianak dan Singkawan, baru-baru ini telah menyatakan dukungannya kepada Oesman Sapta, tanpa aling-aling apapun. Malah Asosiasi Petani Kelapa Indonesia (APKI) , pun kini mendukung sepenuhnya Oesman Sapta. Mereka beranggotakan sedikitnya 495 ribu anggota dengan hak pilih sebanyak 271 ribu orang. Walau kecil, perkumpulan penunggang kuda Mardhotilla Kalbar pun melayangkan dukungannya agar Oesman Sapta jadi gubernur.

Tak terkecuali aktivis dan pentolan partau politik seperti PAN, walaupun itu baru di Kabupaten Kayung Utara, tetapi gelagat seperti itu banyak bermunculan secara diam-diam untuk mendukung Oesman Sapta. Karena hanya Oesman Sapta lah yang bisa disebut “Sang Meteror” (mco).

Kalbar Dalam Bingkai Jurnalistik (Bagian 10)

SEBUAH CATATAN KERAS UNTUK PEDESAAN KALBAR

Ketika kami bertemu dengan para kepala desa yang lebih dikenal sebagai pamong desa terdapat banyak catatan yang boleh dibilang keras. Karena warga mereka selain hidup hanya semata atas berkah alam, juga masih tertinggal jauh dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia yang pernah kami kunjungi.

Memang ada seribu lima ratus lebih desa di Kalbar, tak semuanya jelak. Ada juga yang bagus. Tetapi mayoritas pedesaan Kalbar masih tertinggal jauh. Kami datang ke desa Wajo yang tak jauh dari Pontianak saja, jalannya belum bisa dilalui kendaraan roda empat. Apalagi desa diujung sungai Landak, mereka hanya memiliki jalan setapak. Antara satu desa dengan desa lainnya hanya bisa dilalui dengan sepeda motor. Kadang kala mereka berjalan kaki dalam puluhan kilo meter. Dan belum ada SD Negeri di sana.

Lebih parah lagi, kondisi kecamatan Kubu. Walaupun itu merupakan ibukota kecamatan, tetapi jalannya hanya bisa dilalui sepeda motor saja. Sama hal kondisinya ketika 20 tahun silam seperti cerita penyanyi kondang Eddy Silitonga kepada kami baru-baru ini.

Yang lebih parah lagi adalah soal air bersih. Pernah suatu ketika penyanyi ibukota terpaksa membeli 5 botol besar air mineral untuk mandi. Ia sengaja mandi di depan orang-orang desa itu sekedar tanda protesnya bahwa kalian perlu mandi dengan air bersih.

Berkenaan dengan air bersih, belum lama ini kami punya cerita menarik. Kami bermalam di sebuah desa di tepian sungai. Tentu saja kami harus menumpang rumah penduduk untuk mandi dan menggosok gigi, karena di desa itu tidak ada hotel. Satu dua tiga teman kami, terus mandi bergantian. Yang sudah mandi mengejak teman kami yang belum mandi. Akhirnya teman kami yang terakhir pun mandi juga.

Hanya saja aneh, teman kami yang terakhir mandi, ia bercerita bahwa di bak mandi yang tadi kami pakai untuk mandi terdapat banyak bulu ayam. Lalu kami pun penasaran. Dan kami ingin tau dari mana penduduk setempat mencari sumber airnya yang masuk ke bak mandi tadi.

Aduh mak, ternyata air yang disedot ke bak mandi melalui mesin pompa air tadi adalah air sungai di bawah rumah itu. Di samping cerobong mesin pimpa pun, dua pemuda sedang membersihkan ayam untuk santapan lezat kami siang itu. Padahal ketika kami buang air besar juga mengalir langsung ke tempat itu. Apa yang terdapat di permukaan sungai itu, tidak usah kami tulis disinilah. Bisa dibayangkan reaksi teman-teman kami yang sudah mandi dan menyatakan dirinya sudah bersih dan harum tadi. Ternyata rumah yang lainnya pun melakukan hal yang sama.

Pembangunan desa menurut APDSI (Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia) membutuhkan sedikitnya Rp 500 juga setahun per desa. Idealnya menurut mereka, setiap desa dibangun dengan anggaran Rp 1 milyar setahun. Artinya jika kita ingin membangun desa se Kalbar, sedikitnya membutuhkan biaya Rp 1,5 triliyun setahun. Mana mungkin, jika APBD Kalbar hanya Rp 1,1 triliyun setahun. Makanya Oesman Sapta dan Igntaius Lyong akan memperjuangkan APBD Kalbar minimal Rp 5 triliyun., tentunya secara bertahap. Hanya dengan angka segitu, Kalbar baru bisa membangun.

Kami melihat tidak ada komunikasi yang baik antara pemda Kalbar dengan pamong desa saat ini. Sementara itu, pamong desa tidak punya keberanian untuk mendesak atasannya untuk memperjuangkan desanya. Malah kami berani mengatakan, seharusnya pajabat pemda turun ke desa jangan dalam keadaan resmi. Sekali-sekali jadilah turis berkunjung ke desa, agar bisa melihat kehidupan desa apa adanya, tanpa dikawal oleh aparat yang kadangkala sering merekayasa keadaan agar tidak dimarahi atasannya.

Padahal, menurut catatan dunia perbankan di Jakarta, desa adalah lumbung ekonomi tidak hanya Kalbar tetapi Indonesia. Ketika resesi ekonomi melanda Indonesia tahun 80-an, yang paling bertahan adalah sektor ekonomi pedesaan.

Bank BRI yang paling banyak mengusurkan kredit ke sektor ekonomi pedesaan, mencatat angka terendah kredit macet, kendati krisis ekonomi melanda hampir seluruh wilayah Indonesia. Maka kemudian BRI gencar melaksanakan kredit mikro untuk ekonomi rakyat kecil, termasuk pedesaan. Mengapa pedesaan Kalbar tidak berbuat sama dengan desa lainnya di Indonesia. Bukankah bank-bank kita bisa membantu? Kami yakin hanya soal bagaimana mengkomunikasikannya. (Safari ANS/MCO).

Kalbar Dalam Bingkai Jurnalistik (Bagian 9)

BERSEDEKAH ITU UNTUK CARI PAHALA, BUKAN MENCARI PUJA-PUJI ORANG

Selama kami mengikuti tur berkeliling Kalbar bersama kandidat gubernur bernomor urut 2 Oesman Sapta, kami menemukan banyak catatan penting yang menjadi pembelajaran untuk diri sendiri. Terutama tentang orang yang bermuka palsu dan orang yang bermuka apa adanya.

Yang bermuka palsu, tentu ingin memanfaatkan keinginan sang kandidat untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya bagi dirinya dengan menawarkan berbagai macam rencana. Yang bermuka apa adanya, memang mereka yang ikhlas ingin mendukung dan berbuat sesuatu untuk kesuksesan sang calon.

Namun kami berkeyakinan benar, bahwa sang kandidat yang kami ikuti mahir dalam memahami serta memilah mana bermuka palsu dan mana bermuka apa adanya. Pernah suatu ketika, dalam rapat koalisi di tengah malam buta. Sang kandidat memanggil seorang pimpinan koalisi yang mengatur daerah tertentu.

Sang ketua berkata, biaya telah diselesaikan sekian, tetapi sang kandidat tidak percaya. Lalu dia panggil orang yang telah dibiayai tersebut malam itu juga. Dia tanya langsung, apa benar sudah terima biaya dari ketua. Dan orang-orang terkait dengan biaya itu, di tengah larut malam itu, dipanggil semuanya untuk memastikan bahwa biaya yang telah dikeluarkan tidak dikorupsi.

Begitu pun dengan lainnya, Oesman Sapta sering hanya tersenyum ketika seseorang yang bermuka palsu berkata kepadanya. Ia bagai memiliki kemampuan pancaindra kesekian lah, untuk memahami karakter lawan bicaranya. Walau pun yang datang seorang ustadz atau seorang kiyai sekalipun, ia hanya tersenyum ketika seseorang itu menyatakan dukungan kepadanya. Lalu ia bagaikan bisa membaca suara hati kecil orang itu, bahwa ustadz atau kiyai itu berbohong kepadanya.

Dalam perjalanan yang kami ikuti, misalnya kedatangannya pada sebuah tempat ibadah, apakah itu masjid, gereja atau pun kelenteng. Dia bagaikan bisa berbicara dengan dirinya sendiri, bahwa tempat itu layak dia sedekahi atau tidak. Dia paham betul, dimana ia datang dengan membawa amal sedekah ke suatu tempat apa tidak.

Pernah suatu ketika ia begitu tertarik dengan keberadaan masjid tertua di Landak, yang menurut warga setempat telah berusia 300 tahun lebih. Namun pemda Kabupaten Landak agaknya kurang memperhatikan keberadaan masjid ini. Secara diam-diam dia mengirim utusan guna menyampaikan sedekahnya bagi masjid tua itu. Nilainya lebih dari cukup untuk melakukan renovasi mesjid tersebut. Karena merasa terharu, semua pengurus masjid tua itu, menangis tersendu, karena tak menyangka masih ada orang yang peduli. Dan ia meminta kepada kami untuk tidak mempublikasinya.

Begitu juga ketika melakukan shalat Jum’at di masjid kecil dan sederhana di Kubu, namanya masjid Al-Falah. Dia menyumbangkan uang melalui Camat Kubu, tetapi ia tetap meminta kami untuk tidak memberitakannya. Pada daerah yang lain, kedatangannya secara tiba-tiba di sebuah kelenteng di Singkawang karena diundang mendadak. Serta merta ia menyumbang uang tunai. Begitu juga pada masjid-masjid yang ia singgahi. Semua itu tidak boleh kami beritakan.

Akan tetapi akan berbeda halnya. Di banyak masjid dan tempat ibadah dimana ia diminta untuk hadir, lalu sang pengurus masjid minta sumbangan melalui kata sambutannya. Malah ia tidak memberikan sumbangan sama sekali. Ia malah mengkritik bahwa masjid itu masih bagus dan sebagainya.

Sebenarnya, Oesman Sapta lebih senang bersedekah dan beramal, apalagi ke tempat-tempat ibadah, hanya dia dan Tuhan yang tau. Kalau bisa tidak ada satu orang pun yang tau, bahwa ia bersedekah dan menyumbang. Sama halnya ketika dia mengundang anak-anak yatim piatu di berbagai tempat, tidak hanya di Pontianak. Ia banyak menyumbang untuk panti mereka. Lagi-lagi, dia tidak suka disebut sumbangannya, walaupun kemeriahan acaranya diekspos.

Semua tindakannya bersedekah, semata mencari ridho Ilahi. Ia ikhlas dan rela tanpa ada tekanan atau permintaan siapapun. Malah ketika ada orang meminta sedekah atau sumbangan, justru ia enggan mengabulkannya. Karena diminta, berarti dirinya tidak ikhlas. Kalau tidak ikhlas berbuat amal ibadah, maka pahalanya juga hilang, kata seorang ustadz. Begitu juga dengan sang kandidat gubernur Kalbar, Oesman Sapta. (Safari ANS/mco).

Sabtu, 20 Oktober 2007

OESMAN SAPTA DI MATA ARTIS IBUKOTA


Bagi banyak artis Ibukota, sosok kandidat gubernur Kalbar Dr H Oesman Sapta miliki banyak aspek positifnya bagi masyarakat Kalbar jika ia kelak menjadi gubernur Kalbar. Selain ia bersungguh-sungguh ingin membangun daerahnya, ia juga memiliki link yang bagus untuk Kalbar.

Hal tersebut diungkapkan artis penyanyi kenamaan Eddy Silitonga, Yulius Sitanggang, raja dangdut Rhoma Irama dan Dewi KDO kepada Media Center Oso. Mereka dimintai pendapatnya sehubungan dengan pencalonan Oesman Sapta sebagai gubernur Kalbar yang akan dipilih rakyat pada 15 November mendatang.

Bagi Rhoma Irama, Oesman Sapta adalah sosok yang tegas dan pemberani seperti Umar bin Kattab, pemimpin ummat Islam kedua setelah Abu Bakar, serta seorang pedagang yang sukses seperti Usman bin Affan sang pemimpin ketiga ummat Islam setelah Umar.

Penyanyi yang ngetop dengan lagunya “Mama” Eddy Silitonga berpendapat lain. Semula ia tidak percaya Oesman Sapta mau jadi gubernur, “Semula saya anggap bercanda, karena saya tau dia. Di tengah jalan lalu saya pikir, mungkin dia ingin jalan-jalan saja di Kalbar,” jelas Eddy.

“Lah, kok lama-lama jadi serius,” tambah Eddy. Menurutnya Oesman Sapta punya komitmen untuk membenahi Kalbar. Sebab beberapa kali Eddy Silitonga ke Kalbar, tak banyak perubahan yang terjadi.

“Dua puluh tahun lalu saya ke Entikong bersama bang Oesman, sekarang saya ke sana, ya masih gitu-gitu saja,” kenang Eddy. Bahkan Eddy turut sedih ketika melihat kenyataan ibukota kecamatan Kubu tidak ada kendaraan mobil dan tidak ada jalan raya, saat dia show di lapangan bola kecamatan itu.

Bagi penyanyi muda Yulius Sitanggang, Oesman Sapta yang ia kenal adalah sosok yang tepat untuk Kalbar. “Saya pikir dia ingin memajukan daerah ini,” kata Yulius. Apalagi menurutnya, Oesman Sapta adalah seorang pengusaha, banyak akal dan banyak yang bisa dia lakukan. “Dia punya obsesi untuk memajukan Kalbar dalam bidang pendidikan, sarana dan prasarana,” tambahnya.

Bagi Dewi KDO, Oesman Sapta punya keberanian untuk membangun Kalbar. Baik Dewi, Rhoma Irama, Eddy Silitonga maupun Yulius Sitanggang, memandang sosok Oesman Sapta adalah yang dianggap paling cocok memimpin Kalbar dalam waktu dekat. Mengingat, ketertinggalan Kalbar dalam berbagai bidang, membutuhkan sosok pemimpin pemberani seperti kandidat bernomor urut 2 ini. “Karena dia itu adalah Sang Pendobrak,” kata mereka sepakat. (mco)

Jumat, 19 Oktober 2007

Kalbar Dalam Bingkai Jurnalistik (Bagian 5)

BERITA KALBAR DARI HONG KONG

Banyak rakyat Kalbar yang mondar-mandir ke wilayah Taiwan, Hong Kong dan China. Warga Tionghoa Kalbar bahkan banyak yang sudah mantu dengan warganegara ketiga negara itu. Kesamaan budaya dan agama telah membuat mereka akrab dan saling membutuhkan. Hanya saja belum ada sentuhan berarti untuk memanfaatkan akses mereka bagi pembangunan Kalbar.

Kendati Presiden China Hu Jintao, akhir Agustus silam baru saja memecat menteri keuangnnya, Jin Renqing. Karena diduga terlibat skandar seks, namun ia berhasil mencatat rekor menaikkan cadangan devisa negara China hingga USD 1,3 trilyun. Nilai itu hampir setara dengan Rp 12.000 triliyun.

Padahal, negara kita saat ini hanya memiliki cadangan devisi USD 51 milyar atau setara Rp 459 trilyun saja. Itu berarti negara kita masih jauh di bawah Malaysia dan Singapura. Cadangan devisa bisa menjadi indikator kuat tidaknya sebuah negara untuk bertransaksi secara internasional. Dengan kecilnya cadangan devisa negara kita, kita sering diremahkan dalam transaksi internasional.

Misalnya, Hong Kong yang merupakan bagian dari China, pihak perbankannya bisa bertransaksi dalam jumlah besar. Umpamanya untuk membayar minyak satu kapal tengker minyak seharga USD 1 milyar. Di negara Singapura dan Hong Kong hal tersebut sudah menjadi hal biasa. Di negara kita yang bisa bertransaksi seperti itu hanya Bank Indonesia. Bank-bank komersial kita belum diberi kewenangan itu. Bank-bank kita paling banter hanya diberi batas maksimal hingga USD 25 juta saja.

Hal itu pulalah mengapa Bank Indonesia kemudian mengambil alih transaksi Pertamina dan Medco Group. Karena kedua perusahaan raksasa minyak ini harus bertransaksi dalam jumlah milyar dollar Amerika Serikat tadi.

Semuanya ini, telah menempatkan negara untuk tidak dapat memiliki undang-undang offshore banking dan undang-undang offshore financing, seperti yang dimiliki oleh negara-negara tetangga Malaysia, Singapura dan Hong Kong. Hal ini tentu saja berdampak dengan pembangunan kita pada umumnya, dimana dunia investasi sulit masuk ke Indonesia.

Tak hanya itu, ketika Kalbar mempromsikan daerahnya ke berbagai negara, tetapi tidak diimbangi dengan kebijakan one gate, hanya akan menjadi acara serimonial belaka. Maka diperlukan pranata ekonomi yang sistematis. Bisa kita bayangkan bagaimana China memajukan daerah Shen Chen yang saat ini mampu menjadi daerah pendukung Hong Kong. Seorang pengusaha apabila datang ke daerah itu untuk investasi, sang investor hanya perlu datang ke satu orang lembaga dan bisa diselesaikan dalam satu hari. Selebihnya, mulai dari izin sampai kepada mitra lokal yang sudah terseleksi secara baik tersedia, telah tersedia.

Tak ada biaya itu dan ini. Tak ada potongan itu dan ini. Mereka telah menempatkan sang investor bak raja baru. Apa yang diinginkan oleh sang raja, pemerintah China dengan leluasa akan memberikannya. Bahkan Thailand akan memberikan status kewarganegaraan bagi sang investor yang membawa uang sedikitnya setara Rp 10 milyar ke negara itu. Kalau kita tidak demikian.

Sang investor yang masuk ke kita, harus berpikir tujuh kali. Apalagi di era banyak pilkada seperti sekarang ini. Kalbar pun tak luput dari tabiat jelek ini, sehingga kalau pun ada investor yang mau masuk, maka itu sebuah kerja keras yang amat sangat.

Padahal di dunia global sekarang ini, tidak diperlukan hal yang sulit. Pemda sebagai regulator kebijakan harus cerdas berbenah dengan memanfaatkan fungsi otonomi daerah. Bukankah pusat telah berjanji untuk memberikan peluang itu.

Para petinggi International Fund for Indonesia Development (IFID) yang berbasis di Hong Kong menempatkan Kalbar sebagai daerah yang layak untuk dilirik, apabila ada aturan main yang tidak memusingkan. IFID dapat saja men-support konsep Kalbar Inc apabila konsep ini telah menjadi konsensus masyarakat Kalbar. Para petinggi IFID, yang juga berkantor di Dan Hag Belanda menyenangi konsep Kalbar Inc. Konsep ini dianggap layak untuk memberdayakan rakyat secara langsung di Kalbar.

Malah petinggi IFID ini melihat, jika konsep Kalbar Inc berhasil, mereka meminta pemerintah Indonesia menerapkan juga didaerah lainnya seperti Jakarta Inc, Banten Inc dan sebagainya. Apalagi daerah konflik yang notabene-nya sebagai refleksi kekecewaan rakyat terhadap belenggu ekonomi yang semakin hari semakin berat dan menyesakkan.

Konsep Kalbar Inc, bukan konsep baru. Negara Singapura telah menarapkann konsep itu sejak lima tahun silam. Dimana setiap rakyat singapura diberi saham-saham oleh negara. Saham-saham tersebut bisa digadaikan atau bisa digunakan untuk kepentingan bisnis. Sementara itu induk raksasa bisnis Singapura, Temasek dengan anak perusahaannya seperti SingTel terus merambah dunia dengan jaringan telekomunikasinya. Keuntungannya tentu saja rakyat kebagian melalui lembaran saham-saham tadi. Demikian juga Jepang, malah negara-negara Eropa telah menerapkan sebuah sistem unik. Ialah apabila ada seorang warga mereka yang memiliki unit usaha di luar negeri seperti perkebunan dan turunannya, maka negaranya akan men-support penuh biayanya. Apalagi hasil produksinya diperuntukkan bagi negara mereka. Lalu mereka membungkus kepentingan rakyatnya itu dalam sebuah bingkai kerjasama antar negara.

Nah, dengan link raksasa seperti ini, apa yang dasar bagi rakyat Kalbar untuk tidak menerima Oesman Sapta sebagai pemimpin Kalbar di masa depan. Rasanya, tak ada lagi sosok pemimpin seperti itu kelak dikemudian hari. Wallahua’alam. (Safari ANS/MCO).

Kalbar Dalam Bingkai Jurnalistik (Bagian 4)

KALBAR SEBAGAI WATER WORLD SOCIETY

Rumah-rumah berjejar di sepanjang tepian sungai. Di sana terparkir perahu motor kecil dan besar. Rumah mereka menghadap ke air, bukan ke daratan seperti kebanyakan rumah di wilayah Indonesia lainnya. Tetapi mereka hanya membuat apa adanya, tanpa konsep. Padahal Kalbar dibelah sungai yang membentang panjang dari Pontionak hingga ke Puttusiba, Kapuas Hulu.

Alur sungai pun lebar dan dalam, sehingga kapal-kapal besar bebas berlalu lalang tanpa harus was-was kandas. Berbeda kondisinya dengan sungai musi di Palembang. Semuanya menjadi rantai kehidupan yang unit dan berprospek masa depan yang baik, ketika orang-orang kota telah bosan hidup ala darat yang panas.

Ketika speed boat kami bersama Ignatius Lyong meneleusuri sungai Landak dari Pontianak menuju hulu sungai selama 1,5 jam, kami merasakan Kalbar memiliki potensi alam yang amat bagus untuk menciptakan water world estate terbesar di dunia. Karena negara lain banyak gagal menerapkan konsep itu karena kondisi alamnya tidak memadai. Kami yakin, ketika dunia air di Kalbar ini tersentuh secara konseptual, maka negara Belanda yang selama ini menyombongkan diri sebagai kota air terbaik di dunia, akan segera sirna.

Jika konsep ini diterapkan seiring dengan pengembangan kebudayaan masyarakat Kalbar yang terdiri dari berbagai jenis budaya seperti budaya Dayak, Bugis, Melayu, Madura dan Tionghoa, rasanya terasa bodoh kalau dunia wisata tidak mengalihkan agendanya ke Kalbar. Namun semuanya itu perlu sentuhan konsep.

Anda bisa bayangkan bagaimana kalau seorang turis berlayar menyusuri sungai yang membelah Kalbar tadi. Mereka membutuhkan perjalan dua hari baru bisa menjangkau seluruh aliran sungai. Mereka bisa menikmati pemandangan di atas kapal pesiar yang membawa mereka. Umpanyakan saja, kapal pesiar itu adalah hotel dan restoran terapung yang nyaman.

Masyarakat water world tidak membutuhkan mobil atau sepeda motor. Mereka membutuhkan kendaraan air, seperti speed boat, kapal pesiar, jetsky, mobil yang bisa masuk ke air seperti yang ada di negari Belanda, dan segala macam pendukung lainnya.

Tak hanya itu, pendidikan untuk anak-anak mereka juga harus berbeda dengan pendidikan anak-anak pedalaman. Mereka harus memahami dunia air secara lebih ilmiah. Masyarakatnya pun harus dikembangkan sebagai masyarakat air yang menjanjikan kehidupan mereka. Misalnya perlu dibangun pelabuhan atau terminal-terminal besar dan kecil di setiap persinggahan seperti layaknya terminal mobil di wilayah daratan.

Saat ini tidak. Mereka masih menjadikan aliran sungai sebagai berkah semata. Tak ada olahan konsep yang jelas tentang mereka. Malah mereka disamakan dengan konsep pembangunan masyarakat pesisir saja. Padahal karakteristik masyarakat pesisir dengan masyarakat water world akan sangat berbeda. Water world society adalah sebuah kehidupan yang menempatkan air sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari, sedangkan, masyarakat pesisir hanya menempatkan laut sebagai keniscayaan alam semata.

Namun, kehidupan water world yang melingkupi ruang masyarakat Kalbar akan berdampak sangat serius dibandingkan di Jawa seandainya ekosistemnya terganggu. Diantaranya penebangan hutan berkelebihan dan terganggungnya aliran parit atau sungai-sungai kecil. Karena jarak antara permukaan air dengan rumah penduduk amat tipis. Sedangkan di Jawa, permukaan air dengan daratan rumah penduduk tinggi. Itu pun masih harus mengalami banjir, paling tidak lima tahun sekali, karena memang di Jawa hutan sudah bisa dikatakan habis.

Sedangkan di Belanda, negara itu memang sudah hidup di bawah permukaan air laut. Ketika kita mendarat di bandar udaranya, terlihat perahu motor berada di atas pesawat yang sedang mendarat, karena memang sungainya berada di atas lapangan terbang. Begitupun rumah penduduk dan lainnya. Pokoknya Belanda sukses mengatur ritme air sehingga mereka terbebas dari banjir kapan pun.

Kami yakin kondisi alam Kalbar tidak bisa disamakan dengan Belanda. Dan bisa dipastikan, jika ekosistem di Kalbar terganggu, air yang begitu akrab dengan masyarakat air tadi, justru akan menjadi bencana. Karenanya, pemerintah perlu menakar secara jelas berapa hektar hutan yang bisa menjaga ekosistem itu. Semua ada rumusannya, jadi tidak perlu pani. Yang panting konsep water world society tersusun secara ilmiah, dan dapat diimplementasikan secara bijak.

Kandidat gubernur yang cerdas dan pinter akan menempatkan konsep ini sebagai sebuah terobosan baru untuk dunia wisata tidak hanya di Indonesia tetapi juga didunia global. Rakyat Kalbar berhak mengkalim dirinya sebagai water world society di dunia dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Sebab, jika konsep itu diterapkan, mata dunia internasional akan memberikan perhatian tersendiri. Banyak lembaga-lembaga keuangan dunia yang akan simpati dan mengucurkan dananya melalui sebuah sistem yang jelas.

Karenanya, cari pemimpin yang memiliki wawasan luas serta mampu melaksanakan konsep itu. Oesman Sapta kami yakini sudah terbiasa dengan terbobosan baru itu. (Safari ANS/MCO).